Workshop Fakultas Vokasi: Selaraskan Pengelolaan Pembelajaran dengan Dunia Industri
Selasa, 16 September 2025 - 12:08:52 WIBDibaca: 358 kali
Fakultas Vokasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menggelar workshop bertajuk “Pengelolaan Proses Pembelajaran dan Administrasi Sarjana Terapan” pada Rabu, 27 Agustus 2025 di Gedung Q lantai 2 Kampus Untag Surabaya. Dekan Fakultas Vokasi, Ir. Ichlas Wahid, MT, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi seluruh dosen dan tenaga kependidikan dalam pengelolaan pembelajaran, administrasi, dan layanan kemahasiswaan agar selaras dengan ketentuan Kemendiktiristek RI.
Sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Ir. Era Purwanto, M.Eng menekankan bahwa perguruan tinggi vokasi (PTV) seharusnya mengutamakan kolaborasi dan proyek nyata bersama dunia usaha dan dunia industri (DUDI), bukan hanya berfokus pada pelaksanaan tri dharma yang sempurna. Ia mencontohkan beberapa PTV yang telah terakreditasi unggul tetapi tetap kurang diminati calon mahasiswa, karena kurikulum yang tidak menarik, pembelajaran yang masih teoritis, serta minimnya kerja sama dengan industri. Prof. Era menegaskan bahwa mahasiswa PTV umumnya memiliki kemampuan awal yang lebih rendah dibandingkan perguruan tinggi akademik, sehingga dosen PTV memikul tanggung jawab lebih besar untuk meningkatkan kompetensi mereka.
Menurutnya, dosen vokasi harus memiliki keterampilan praktis yang kuat sesuai bidangnya, memiliki jejaring luas dengan industri, dan idealnya secara berkala melakukan magang di industri. Pengelolaan PTV yang efektif menuntut SDM yang visioner serta memahami karakteristik jalur vokasi yang berbeda dari jalur akademik. Prof. Era juga menambahkan, PTV sebaiknya memiliki proporsi dosen praktisi minimal 30%, beban magang mahasiswa sebesar 60 SKS, dan proyek akhir 25 SKS. Jumlah mahasiswa per program studi juga idealnya dibatasi maksimal 35 orang. Ia menegaskan bahwa PTV harus berorientasi pada penguasaan keterampilan praktis, pembelajaran berbasis praktik, dan menghasilkan lulusan yang langsung siap kerja, bukan sekadar siap mengikuti pelatihan.